Rabu, Oktober 22, 2014

JUMLAH NOMINAL GAJI BUKAN SEGALA-GALANYA



Selalu saja ada orang di sekitar kita yang suka bertanya tentang gaji teman-temannya lalu membandingkannya dengan miliknya. Kita mungkin salah satunya. Saya mungkin, tapi saya selalu menghindarinya. Membandingkan antara jumlah gaji yang satu dengan yang lain memang mudah. Hasilnya jelas, siapa yang lebih ‘makmur’ adalah yang lebih besar dan yang lebih kecil yang ‘nelangsa’.

Seorang kawan saya bercerita kalau gaji seorang pegawai warteg di Jakarta biasanya berkisar 1 juta  hingga 1,5 juta rupiah. Kalau dibandingkan mereka yang kerjadi kantoran yang bergaji 4 juta, tentu angka gaji pegawai warteg jauh lebih kecil. Dengan mudah, kita bisa berkesimpulan kalau mereka yang di kantoran lebih makmur.

Memang kelihatannya demikian. Tapi kita lupa banyak hal di luar sekedar angka gaji yang tidak kita perhitungkan. Pegawai warteg mungkin bergaji 1 juta rupiah, tapi ia tak butuh bayar tempat tinggal dan bayar makan. Gaji 1 juta itu sudah bersih ia bisa simpan. Sementara mereka yang bergaji 4 juta, harus membayar kos, makan, dan juga transport.

Katakanlah kos di Jakarta mencapai 750 ribu, makan 1,5 juta, dan transportasi 500 ribu. Jadi uang yang bisa disimpan hanya sekitar 1,25 juta. Kalau ini dibandingkan dengan yang bergaji 1 juta, ya yang kantoran akan sedikit beruntung. Tapi jika dibandingkan dengan yang bergaji 1,5 juta, yang kantoran tentu yang ‘nelangsa’.

Siapa nelangsa, siapa makmur

Itu hanya sedikit hal yang banyak orang tidak atau lupa menghitungnya. Tapi di luar itu, ada banyak hal lainnya yang harus kita perhatikan sebelum kita men-judge diri kita lebih ‘nelangsa’ atau lebih ‘makmur’.

Pertamapengalaman dan ilmu. Banyak orang tidak menghitung dua hal ini ketika mereka bekerja. Pengalaman bekerja tentu berbeda-beda di tiap bidang pekerjaan. Pengalaman akan susah di-kuantifikasi atau dihitung seperti materi.

Seorang kawan saya selau mengeluh gajinya tidak beranjak dari 4 juta rupiah. Ia bekerja di bidang media, di salah satu media terbesar di negeri ini. Sehari-hari ia ditugaskan untuk mewawancarai banyak tokoh besar dan tak jarang ia mewawancarai kepala daerah. Hampir setengah dari seluruh gubernur di Indonesia pernah ia wawancarai tatap muka langsung. Ia mengeluh karena temannya yang bekerja di bidang migas begaji dua kali lipat darinya. 

Memang jelas sekali perbedaan gajinya. Tapi bagi saya dua-duanya sama-sama saja. Begini, gaji 4 juta tentu berbeda jauh dengan 8 juta. Tapi pengalaman bertemu dengan hampir seluruh gubernur di Indonesia adalah pengalaman yang ‘mahal’ sekali. Tak banyak macam orang mau ditemui oleh gubernur. Apalagi, ketika wawancara dengan gubernur dijalani, betapa banyak ilmu dan pengalaman dari mereka yang bisa dipelajari. Betapa mahal pengalamannya bukan?

Sementara teman yang bekerja di bidang migas, mereka bekerja di site-site migas yang jauh dari pusat kota. Yang mereka tiap hari lakukan adalah bekerja di site migas, dari pagi hingga sore, lalu pulang ke mes pekerja, besoknya kembali begitu berulang-ulang. Gajinya memang 2 kali dari yang bekerja di bidang media, tapi pengalaman yang diterima juga berbeda.

Soal kedua yang sering dilupakan ketika sudah bicara gaji adalahjejaring. Network atau jejaring yang kita dapat semasa bekerja seringkali kita lupakan. Kita bisa kenal ornag ini dan orang itu bukanlah hal yang murah dan mudah di dapatkan. Gaji sebagai pekerja media mungkin tidak banyak. Tapi bisa kenal gubernur, bahkan mungkin kenal menteri, itu sesuatu yang ‘mahal’ sekali.

Yang bekerja di perkebunan atau tambang memang bergaji besar. Itu selalu membuat yang bekerja di bidang lain ‘iri’. Tapi apa mereka punya kesempatan untuk pergi melihat dan berdiskusi dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang dibanding, katakanlah, teman saya yang dari media itu?

Makin banyak jejaring, kalau bisa dimanfaatkan dan dioptimalkan, akan memberi banyak manfaat. Pertama ilmu yang banyak, kedua lebih banyak pertolongan jika diperlukan.

Hal terakhir yang perlu kita perhatikan lebih ketimbang gaji adalahkebahagiaan. Ini hal yang susah-susah-mudah, tergantung sekali dengan pilihan. Artinya, kita yang bergaji kecil bisa sama bahagianya dengan mereka yang begaji besar. Tapi juga, kita bisa merasa nelangsa, atau juga bisa jauh lebih bahagia dibanding yang bergaji lebih besar.

Kata seorang bijak, kebahagiaan itu cuma urusan ‘klik’ saja. Kita mau bahagia, klik saja tombol bahagia di dalam diri kita. Kita mau nelangsa, matikan tombol kebahagiaan di dalam diri kita. Semudah itu saja.

Ketika kita bahagia, semua urusan terasa mudah dan ada saja solusinya. Kita bergaji 120 juta rupiah per bulan tapi selalu dirundung masalah dan frustasi tentu tak ada nikmat-nikmatnya sama skali gaji sebesar itu. Tapi kita yang bergaji, katakanlah, 1,5 juta perbulan tapi bahagia, anak istri sehat, mau apalagi?

Akhirnya, tentu setiap pekerjaan punya beban dan caranya masing-masing. Kebutuhan orang juga berbeda-beda. Penilaian ini semuanya relatif. Kuantifikasi setiap peristiwa dan pengalaman juga bisa berbeda-beda. Pada intinya, jumlah gaji bukanlah segala-galanya. Masih banyak hal yang bisa kita nikmati tanpa angka nominal gaji kita.(*)
http://jazzmuhammad.blogspot.com/2014/10/gaji-bukan-segala-galanya.html

Minggu, Oktober 19, 2014

CARA MENGGANTI FONT WINDOWS 7

Akhirnya ketemu juga link untuk mengganti Font, untuk sobat yang ingin membutuh dan ingin mengubah font silakan klik link berikut semoga terbantu...salam


http://asrilrahmatp.blogspot.com/2013/03/cara-mengganti-font-windows-7.html

Selasa, Oktober 14, 2014

CARA MUDAH MEMBUAT READ MORE OTOMATIS

  • Silahkan buka template anda. Pilih: TEMPLATE >> EDIT.
  • Cari Kode </head>.
  • Copy paste kode dibawah ini tepat di atas kode </head>
<!--ReadMore http://trikseosimple.blogspot.com-->

<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;static_page&quot;'>
<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;item&quot;'>
<style>
.post-body{text-align:justify;}
.post-body img{max-width:none;width:auto;}
.read-more{float:left; padding-top: 10px;}
.read-more a{ color: #fff!important;text-shadow:0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5);background:#0457A9;  text-decoration:none;font:bold 13px Arial;padding:5px;}
.read-more a:hover{text-decoration:none;background:#666;}
.pic{border: 10px solid #fff;float:left;height:165px;width:250px;margin-right: 20px;margin-bottom:10px;overflow:hidden;box-shadow: 5px 5px 5px #111;}
.grow img{height:165px;width:250px;transition: all 2s ease;}
.grow img:hover{width:400px;height:250px;}
</style>
<script type='text/javascript'>
var thumbnail_mode = &quot;yes&quot;; //yes -dengan gambar, no -tanpa gambar
summary_noimg = 300; //banyaknya huruf jika tidak ada gambar
summary_img = 250; //banyaknya huruf jika ada gambar
img_thumb_height = 165;
img_thumb_width = 250;
</script>
<script type='text/javascript'>//<![CDATA[
function removeHtmlTag(strx,chop){if(strx.indexOf("<")!=-1){var s = strx.split("<");for(var i=0;i<s.length;i++){if(s[i].indexOf(">")!=-1){s[i] = s[i].substring(s[i].indexOf(">")+1,s[i].length);}}strx =  s.join("");}chop = (chop < strx.length-1) ? chop : strx.length-2;while(strx.charAt(chop-1)!=' ' && strx.indexOf(' ',chop)!=-1) chop++;strx = strx.substring(0,chop-1);return strx+'...';}function createSummaryAndThumb(pID){var div = document.getElementById(pID);var imgtag = "";var img = div.getElementsByTagName("img");var summ = summary_noimg;if(thumbnail_mode == "yes"){if(img.length>=1){imgtag = '<div class="grow pic"><img src="'+img[0].src+'" width="'+img_thumb_width+'px" height="'+img_thumb_height+'px"/></div>';summ = summary_img;}}var summary = imgtag + '<div>' + removeHtmlTag(div.innerHTML,summ) + '</div>';div.innerHTML = summary;}
//]]></script>
</b:if>
</b:if>

<!--Auto Read More Akhir-->
  • Save Template anda.
  • Kemudian scroll template anda kebawah cari kode seperti berikut:

Ket: Kata kuncinya adalah didalam kotak hitam "BLOG POSTS / POSTINGAN BLOG" jika anda menggunakan bahasa indonesia.
  • Jika suda menemukan kode seperti gambar di atas silahkan klik anda panah kecil warna hitam sebelah kiri.
  • Setelah tanda panah kecil di klik maka akan ada tampilan seprti gambar berikut


  • Cari kode yang di tandai dengan kotak hitam. "POST' VAR='POST'".
  • Setelah ketemu klik tanda panah yang lurus dengan kode tersebut.
  • selanjutnya akan terbuka kode kode yang lain.
  • geser atau scrol ke bawah dan cari kode 
 <data:post.body/>
  •  Setelah ketemu hapus kode diatas dan ganti dengan kode dibawah ini:
<!-- Auto read more Mulai -->
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
<data:post.body/>
<b:else/>
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;'>
<data:post.body/>
<b:else/>
<div expr:id='&quot;summary&quot; + data:post.id'><data:post.body/></div>
<script type='text/javascript'> createSummaryAndThumb(&quot;summary<data:post.id/>&quot;);
</script>
      <div class='read-more'>
      <a expr:href='data:post.url'>Baca Selengkapnya &#187;</a>
      </div>
</b:if>
</b:if>
<!-- Auto read more Akhir -->
  • Klik SAVE / SIMPAN dan lihat hasilnya.
Terlihat seperti sulit tetapi jika sambil di praktekan pasti bisa karena ini sudah sangat detail, jika saya menjelaskan dengan singkat mungkin para blogger pemula tidak akan mengerti atau kesusahan membuatnya.http://trikseosimple.blogspot.com/2013/06/cara-mudah-membuat-read-more-otomatis-diblog.html

Senin, Oktober 13, 2014

Hasan Tiro dan RI


Jauh sebelum memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimon, Pidie pada 4 Desember 1976, Hasan Tiro adalah seorang republiken. Tiro muda dikenal 
sebagai salah seorang pengibar bendera Merah Putih ketika Indonesia baru merdeka.Dia juga pernah terlibat dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Pidie.
Kecintaannya terhadap sesuatu yang berbau Indonesia berubah total setelah menyaksikan berbagai ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan Pemerintah terhadap Aceh dan 
wilayah-wilayah lain di Indonesia. Saat Daud Beureu’eh memproklamirkan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan Kartosuwiryo, Tiro yang waktu itu
 sedang kuliah di Amerika segera bergabung dalam gerakan tersebut. Bahkan, massifnya operasi pembersihan tentara Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Tiro mengirim 
surat terhadap PM Ali Sastroamidjojo agar menghentikan aksi kekerasan terhadap aktivis DI/TII.
 Sejak itulah, Hasan Tiro melawan semua yang berbau Indonesia.
Tiro boleh saja dipandang sebagai salah satu orang yang merongrong kewibawaan negara 
Indonesia yang sah, tetapi dia memiliki alasan yang cukup. Menurutnya, Indonesia cenderung
 dibangun secara sentralistik dengan mengabaikan peran wilayah-wilayah lain di Indonesia
 yang memiliki kontribusi terhadap Pemerintah Pusat di Jakarta. Selain tindakan kekerasan 
yang massif, upaya Pemerintah Pusat menjadikan daerah-daerah yang memiliki kekayaan 
alam sebagai sapi perahan mendorong Tiro untuk melawan konsep sentralistik dan otoriter
 tersebut.
Pada tahun 1958, Tiro menulis buku ‘Demokrasi untuk Indonesia’. Di buku ini, Tiro menawarkan
 konsep negara federasi untuk Indonesia. Solusi negara federasi dipandang cocok untuk Indonesia dengan menghargai daerah-daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah serta 
menghormati kekhasan wilayah-wilayah tersebut, sekaligus solusi menghentikan perlawanan 
DI/TII. Namun, saat itu, wacana negara federasi dipandang tidak cocok untuk Indonesia, apalagi pernah punya pengalaman gagal dengan konsep tersebut. Sebut saja, gagalnya Republik Indonesia Serikat (RIS), yang dianggap sebagai negara boneka, bentukan Belanda.
Pun begitu, setelah gerakan reformasi 1998, wacana Negara Federasi kembali menggelinding 
setelah Amien Rais mengusulkan ide serupa. Negara kesatuan (NKRI) dipandang terlalu Jawa-sentris, dan lebih sering menganak-tirikan daerah-daerah lain di Indonesia. Bahkan, ketika wacana pemisahan diri Aceh dari Indonesia menguat, baik dari Gerakan Aceh Merdeka 
maupun masyarakat sipil dalam bentuk referendum, Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 
saat itu, Prof Dr Dayan Dawood, MA, juga mengusulkan wacana federasi. Menurutnya, dengan negara federasi akan menyelamatkan Indonesia dari ambang kehancuran.
Di luar itu, ada hal yang lebih penting dari gerakan yang dibangun Hasan Tiro. Bahwa, di balik ngototnya Hasan Tiro memerdekakan Aceh, ternyata Tiro sudah memberi 
penyadaran nasionalis kepada Aceh dan juga wilayah-wilayah lain di Indonesia, bahwa konsep sentralistik Jakarta harus dilawan. Beruntung, pascareformasi,
Indonesia mulai mengoreksi model pembangunan yang selama ini lebih Jawa-sentris menjadi lebih menghargai daerah-daerah, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar
 terhadap penerimaan negara.
Saya pikir, inilah salah satu warisan (legacy) Hasan Tiro untuk Indonesia (termasuk Aceh). Indonesia sudah berubah, apalagi dengan memberlakukan sistem desentralisasi dan 
memberi kewenangan yang lebih besar untuk Pemerintah Daerah. Bagi Aceh, mudah-mudahan, 
sekali pun tak merdeka, minimal merdeka dalam NKRI: pembangunan berkembang, rakyat sejahtera, dan relasi Aceh-Jakarta kembali pulih seperti semula. Apalagi,
 Aceh pernah menjadi modal republik ini!

Under Creative Commons License: Attribution 
Follow us: @almubarak on Twitter | taufik.mubarak on Facebook

Minggu, Oktober 12, 2014

JEUNGKI

jeungki Jingki atau jeungki adalah sebuah alat tradisional yang terbuat dari kayu pilihan yang digunakan oleh masyarakat Aceh untuk menumbuk padi menjadi beras atau menumbuk beras menjadi tepung pada era sebelum 1990. Alat ini sangat mudah ditemukan hampir disetiap rumah di kampung-kampung. Sekarang alat ini sudah sangat jarang digunakan dan dijumpai karena telah digantikan oleh alat-alat moderen. Cara Kerja Digerakkan dengan kaki pada titik tumpang lebih keujung pengungkit sehingga memberikan pukulan yang lebih keras. Diujung pengungkit dipasang suatu kerangka terdiri atas 2(dua) bagian tegak lurus yang di hubungkan oleh kayu as (penggerak) harizontal sehingga jeungki akan naik turun. Diujung sisi lain tempat dipasangkan alu (alee dalam bahasa Aceh) untuk menumbuk lesung.